Jumat, 09 September 2016

Kedai Dipelataran Hati

Kedai Dipelataran Hati
By : Rokhayati
Jika boleh, ingin segera ku bangun kedai dipelataran hati
Lalu, kusuguhkan hidangan istimewa untukmu
Bersama rasa cinta semanis gula yang tiada lagi mewarna
Kau bisa datang kapan saja
Kala air mata tertahan
Kala kemarahan hanya tersimpan
Kala kebencian semakin menyesakkan
Bersandarlah di sini
Dipelataran hati
Menikmati aroma-aroma cinta yang tercium mewangi
Lalu, jikalau kau ingin kembali
Kembalilah menuju cinta yang hakiki
Bersamaku

Membangun kedai terindah yang tiada orang lain dapat mengunjunginya lagi

Semarang, 25 Agustus 2016

Selasa, 30 Agustus 2016

Menunggu di Jendela

Surat Cinta-Mu
By : Rokhayati
Bening kasih-Mu
Tulus membelaiku
Tertunduk aku bersimpuh
Luruh hati berpasrah diri
Merindukan kecupan syair cinta-Mu
Saat sunyi menyapa
Lirih lisan merajut do’a
Ku raba lantunan surat Cinta-Mu
Teduh kuresapi bait suci
Terasa getar nurani fitri
Ohh Allah...
Aku rindu surat cinta-Mu
Membelai lembut disudut kalbu
Mengecup hatiku

Menenangkan jiwaku


Gelora Cintaku
Sinar senja yang menghiasi langit biru
Perlahan hilang melayang
Tergantikan malam nan gumpita
Menegaskan siluet cinta yang bergelora
Saat awal mengenalmu
Dalam angkutan kedamaianku
Ku tatap mata beningmu
Hatiku berdesir tak menentu
Ingatkah saat itu?
Rasaku mulai bersenandung
Memikirkan segala tentangmu
Gelora cinta semakin membara
Mengecup hati yang bersuara
Lidahpun tak lagi bersua
Tangan tak mampu merambah sama
Kaulah cinta pertama
Dalam hati terbara cinta


  
Rindu Tak Bersayap
Aku masih saja berdiam disini
Menikmati indahnya balantara bumi
Rasaku mulai bersenandung
Rinduku makin menjelma
Menyusup, menyeruak di relung jiwa
Lambai tangan mulai mendesah
Kaki pun tak lagi mampu merambah
Hanya diam, samar dan tak terarah
Rinduku tak lagi bersayap
Hanya terpendam dalam jiwa yang malang
Ku ingin kau mendengar
Jeritan rindu  menyeruak terdengar
Tanda tanya mulai berhamburan
Rinduku, masihkah bersayap?
Agar tersampaikan rasa padamu
Betapa rinduku makin menjelma


 NB : Puisi ini masuk dalam antologi puisi berjudul Menunggu di Jendela, Rumah Kayu Indonesia


Biodata Narator :

Rokhayati, lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 1 November 1996. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Alamat saat ini berada di Gang Kantil 1B No.03, Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Ia menyukai dunia tulis menulis sejak duduk dibangku SMP, berawal dari keasyikannya menulis diary. Alamat Fb : Rokha An-Nafsi, E-mail: khayyaaa@gmail.com. Cp : 085868447269


Senin, 29 Agustus 2016

Gemerlap Cinta di Langit Lekdrat

GEMERLAP CINTA DI LANGIT LEKDRAT
By : Rokhayati
Jikalau itu nyata, aku ingin waktu berjalan lebih lama lagi…
Dinding-dinding itu masih seperti dulu. Rapuh! mungkin tidak lama lagi akan menghilang dari dahannya. Seperti dadaunan yang berguguran dikala musim kemarau tiba. Aku melihat banyak anak sekolah berlalu lalang dihadapanku, tidak ada satupun yang mau menyapa, mungkin mereka heran ada manusia asing yang masuk dalam wilayah mereka, atau mungkin mereka malu untuk sekedar menyapa dengan melambaikan tangan atau mengucapkan salam.
Aku terus memandangi dinding itu. Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang atau tengak-tengok kesamping. Tulisan satu tahun yang lalu masih sama. Tidak ada coretan dari manusia-manusia jail. Tidak ada penambahan huruf, yang ada justru banyak huruf yang menghilang. Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai mereka lupa akan tulisan yang terpampang jelas didepan gerbang.
            Ku langkahkan kaki melewati pintu gerbang yang telah rapuh dimakan usia. Ku lihat seorang laki-laki yang tidak lain adalah satpam sekolah. Satpam pun langsung mendekatiku dan menanyakan keperluanku.
            “Selamat siang, dari mana ini? Kayaknya alumni sini ya?”
            “Siang Pak, iya pak. Saya alumni sini. Wah bapak masih ingat saya?”
            “Ingat wajahnya, tapi lupa namanya, mari masuk”
Tanpa berbasa-basi aku langsung masuk mengikuti pak Satpam. Aku duduk di kursi yang 1 tahun  lalu masih sering digunakan buat nongkrong anak-anak yang doyan absen  pelajaran. Rasanya aku merindukan keberadan mereka. Meskipun sering bolos pelajaran mereka tetep teman yang selalu menghiburku dikala aku senang maupun sedih.  
            “Mau ada keperluan apa?” Tanya Pak Satpam sembari mempersilahkan duduk di lobby.
            “Saya Reni pak, alumni sekolah ini, saya ingin bertemu Ustadz Sodiqun, guru bahasa Arab, apakah beliau masih mengajar disini?”
            “masih mbak, tunggu sebentar saya panggilkan”
            Satpam berlalu dari hadapanku. Ingin rasanya ikut masuk ke ruang guru dan melihat pahlawan tanpa tanda jasa di sana. Namun, kuurungkan niatku itu. Aku di sini adalah tamu. Tidak mungkin masuk seenaknya saja. Aku menunduk, memainkan handphone sembari membalas sms dari salah satu temanku. Terdengar suara gesekan sepatu dari belakang. Suara itu semakin mendekat. Belum juga aku menoleh, seseorang memanggil namaku. Aku terkejut bukan main.
            “Reni?” sapa seorang laki-laki memakai jas berwarna biru muda, celana hitam polos dan bersepatu hitam. Kini, ia berada didepan mataku persis.
            “ini Reni Aggraeni kan?”
            “Iya, siapa ya?”
            “aku Bayu, kau tak ingat?”
            “Bayu?”
            “Bayu teman sekelasmu dulu, kau pura-pura lupa?”
            Sepertinya nama itu tidak asing bagiku. Ya! Bayu, aku ingat anak itu. Anak laki-laki yang super bawel. Ternyata ia bekerja sebagai guru di almamaternya sendiri.
            “Bayu, kau terlihat lebih dewasa.” Ucapku sembari tersenyum kecil. Bayu pun membalas senyumku sambil melangkahkan kaki duduk berhadapan denganku. Ia mendekatkan wajahnya kehadapanku. Matanya yang bulat itu sekarang berada didepan mataku persis.
            “Kau bercanda, Ren?” tanya Bayu kemudian
            “Aku tidak bercanda Bay, kau terlihat lebih rapi dan…”
            “dan ganteng! Benar kan Ren? Hehehe.” Bayu terkekeh. Sikapnya memang dari dulu belum berubah. Masih suka bercanda dan kepedean. Ya, seperti itulah kekhasan dari pribadinya yang sering membuat teman-teman yang lain merasa sedih ketika Bayu tidak berangkat sekolah.
            “Ahh, kau ini, dari dulu kepedean.” Aku tersenyum kecil menanggapi sikap Bayu tersebut. Ia pun belum berhenti tertawa. Sikapnya yang humoris itu memang membuat semua orang merasa senang ketika berhadapan dengan Bayu. Seperti diriku. Kedatangan Bayu membuat diriku lebih santai dan tidak gugup seperti sebelumnya.
            “Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kau ke sini, Ren?” tanya Bayu kemudian.
            “Ini aku mau mengantarkan surat untuk Pak Sodiqun.” Aku memperlihatkan amplop yang berisi surat undangan kepada Bayu. Bayu dengan santainya mengambil amplop itu dari tanganku. Sontak aku merasa sangat kaget.
            “Bay! Hati-hati nanti sobek!” ucapku dengan muka sebal.
            “Nanti aku ganti kalau sobek, Ren.” Ucap Bayu dengan santainya.
            “Ya sudah Ren, kau berikan saja surat ini padaku, nanti aku berikan kepada Pak Shodiqun, hari ini beliau lagi sibuk, kemungkinan belum bisa menemuimu.” Lanjut Bayu.
            “Apa aku bisa mempercayaimu, Bay?”
            “Tenang, Ren. Aku tak akan membuat putri kerajaan secantik Reni Anggraeni kecewa. Aku pasti akan mengabarimu ketika surat ini sudah kusampaikan. Tinggalkan saja nomor handphone mu.” Lanjut Bayu dengan tatapan manisnya. Bayu memang pandai sekali merayu, membujuk dan mempengaruhi seseorang. Aku pun akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku menyerahkan amplop tersebut kepada Bayu dan menuliskan nomor handphone ku sesuai saran dari Bayu.
            Setelah pertemuan itu, aku menjadi sering berkomunikasi dengan Bayu. Aku seperti menemukan kembali sahabat lamaku yang teramat aku rindukan itu. Aku tidak menyangka kedatanganku ke almamater tercinta itu mempertemukan aku dengan Bayu. Terkadang, ketika aku sedang bosan dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk, Bayu menghiburku dengan lawaknnya. Ia mengisi hari-hariku yang kosong, meskipun hanya lewat handphone. Aku cukup senang dengan kehadirannya kembali dalam kehidupanku.
            “Ren, suratnya sudah sampai kepada penerima :D” itulah sms pertama yang ku baca dari Bayu. Ia tak mengingkari janjinya. Tak seperti dahulu. Setiap kali aku memintanya meminjamkan buku ke perpustakaan ia hanya mengangguk tetapi tidak mengambilkannya. Ia malah sibuk bermain bersama teman-temannya.
            “Bay, bisa minta tolong pinjamkan buku Lupus di perpustakaan? Pakai kartu perpusmu ya, soalnya kartuku masih di sana.” Ucapku dengan lembut.
            “Oke, siap laksanakan!” Bayu mengedipkan mata kananya kepadaku pertanda ia mau meminjamkan buku ke perpustakaan. Beberapa menit kemudian ia melesat keluar kelas bersama teman-temannya.
            Aku menunggu Bayu di kelas lebih dari 25 menit. Padahal buku Lupus itu akan segera aku resensi. Aku semakin tidak sabar. Akhirnya aku pergi ke perpus sendiri. Sampai di perpus aku tidak melihat Bayu di sana. Kemudian aku melihat daftar hadir peserta perpustakaan. Tidak ada nama Bayu di daftar tersebut. “Ahh, dia membohongiku lagi.” Gerutuku kesal. Aku pun akhirnya meminjam buku Lupus itu dengan kartu milik temanku. Sampai di kelas, Bayu pun tidak menyapaku sedikitpun. Ia terus bergurau denga teman-temannya. Membuat diriku semakin panas dan kecewa terhadapnya.
            Dua hari setelah kejadian itu, aku menjadi cuek dengan kehadiran Bayu.
            “Ren, kau kenapa? Apa aku ada salah ke kamu?” Tanya Bayu sembari menarik kursi yang ada disamping kananku kemudian membawanya di depan mejaku. Ia berhadap-hadapan denganku.
            “Pikir saja sendiri!” ucapku dengan muka sebal. Aku terus menyibukan diri membaca novel yang sedang ku pegang.
            “Ren, kalau aku ada salah aku minta maaf, jangan diam-diaman seperti ini, tidak baik lho, katanya sahabat.”
            “Sudahlah Bay, aku capek dibohongi terus.” Aku membanting bolpoin yang ada ditanganku ke meja. Kemudian aku berdiri.
            “Dibohongi bagaimana?” Bayu menimpali.
            “Kau selalu seperti itu, kenapa kau tidak pernah sedikitpun serius, Bay?” Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. Entah perasaan apa yang sedang menyelimutiku. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu aku berlari menyusuri koridor sekolah. Aku menangis sebisanya.
            “Ren… tunggu!!!” Seru Bayu dari kejauhan. Aku terus berlari sambil mengusap tetasan air mata yang terus saja menetes. Sampai bel tanda masuk berbunyi, aku masih terus menangis ditaman samping sekolah.
            Kesedihanku berakhir dengan kemenangan Bayu meluluhkan hatiku. Pada sore harinya ia mengirim sebuah bunga mawar berwarna putih dan surat permohonan maaf padaku. Tidak bisa aku jelaskan betapa sangat bahagia mempunyai seorang sahabat seperti Bayu. Terkadang aku merasa kecewa dengan sikapnya yang tidak pernah serius. Namun, banyak hal yang Bayu miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ya, kekurangan Bayu telah ditutupi dengan kelebihan yang ia miliki. Dimataku ia sahabat yang sempurna.
            Tiba-tiba aku tersenyum sendiri mengingat kenangan sewaktu SMA itu. Sungguh ingin ku ulang kembali kebersamaan bersama Bayu dan sahabat lainnya. Beberapa menit kemudian Bayu menelfonku. Aku buru-buru mengangkat telefonnya.
            “Assalamualaikum.”
            “Waalaikumussalam. Ren, lama banget balas smsnya!”
            “Ini baru akan kubalas, kau tak sabar menunggu balasanku?” aku sedikit meledek Bayu.
            “Tidak juga! Ya, aku kan cuma memastikan smsnya sudah masuk atau belum.” Jawab Bayu tidak mau mengalah.
            “Oke, mau aku balas sekarang, Bay?”
            “Ya sudah balas di sini saja, aku sudah menghabiskan pulsa untuk menelfonmu.”
            “Iya, terimakasih Bayu Nugroho.”
            “Cuma terimakasih, Ren?”
            “Terus minta apa lagi, Bay?”
            “Traktir makan nanti ba’da Isya di Lekdrat depan alfamart. Titik! Assalamualaikum.”
            “Waalaikumussalam.” Tut tut tut… Bayu mematikan telefonnya. “Ahh dasar dikasih hati minta jantung. “ batinku dalam hati. Aku kembali mengerjakan tugas kuliah yang masih menumpuk. Kuliah S2 memang terkadang menyita banyak waktu. Tetapi, untuk sebuah impian terbesar dalam hidupku, tidak ada salahnya mencoba untuk mewujudkannya.
            Setelah sholat Isya, aku buru-buru memakai jilbab dan menghias diri seperlunya. Di depan kost sudah terdengar suara klakson sepeda motor. Aku melihat dari jendela kamar. “Bayu.” Ucapku pelan. Ku ambil tas slempang yang biasa ku pakai, ku berlari keluar kamar dan tidak lupa mengunci kamar terlebih dahulu.
            “Ren, ayooo cepat, keburu hujan.” Seru Bayu. Sekilas aku memandang wajahnya dari kejauhan. Ia terlihat sangat berbeda dengan memakai celana jeans dan jaket bewarna biru putih.
            “Oke.” Seruku sembari berlari ke depan halaman kost. Entah dari mana asalnya tiba-tiba perasaan canggung menghampiriku. Namun, aku terus berusaha membuyarkannya. Aku pun menaiki sepeda motor bersama Bayu. Sesampainya di depan Lekdrat, Bayu tiba-tiba menutup mataku dengan slayer bewarna hitam.
            “Bay, apa ini!” seruku sembari memegang slayer yang sudah dilingkarkan ke mataku.
            “Sebentar saja kok, Ren. Jangan ngintip ya?” ucap Bayu. Aku berjalan dengan dituntun oleh Bayu. Aku tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap. Setelah langkah Bayu terhenti, langkahkupun ikut terhenti. Perlahan Bayu melepas slayer yang menutupi mataku.
            “Tarraaaaa…” Sebuah tempat yang sangat indah kini berada di depan mataku. Balon-balon bertuliskan namaku dengan nama Bayu berjejer memenuhi setiap pohon hias yang cantik. Lampu-lampu kecil berderet, berkelap kelip dan berwana-warni. Di lantai bertebaran bunga-bunga cantik nan indah membentuk huruf R dan D. Disebelah kiri aku melihat rangkaian tulisan “Persahabatan”. Sedangkan disebelah kanan, terdapat tulisan “Cinta” dengan dilengkapi kerlipan lampu-lampu kecil. Sungguh desain yang sangat indah. Beberapa menit kemudian, sebuah alunan musik gitar terdengar merdu sampai ditelingaku. Seorang laki-laki dengan memainkan gitarnya terlihat berjalan mendekatiku. Ia menyanyikan sebuah lagu persahabatan yang melow. Aku pun berjalan mendekatinya.
            “Bayu…” seruku sembari menutup mulutku karena tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku. Sebuah senyum mengembang terlukis di wajah Bayu yang bulat lonjong itu. Sambil memainkan gitar dan bernyanyi, ia terus memandangiku dengan senyum manisnya. Betapa bahagianya diriku. Sebuah moment indah yang tak akan terlupakan. Moment persahabatan yang dibalut rasa kasih dan sayang yang saling melengkapi satu sama lain. Oh Tuhan… Jika ini mimpi, aku tak ingin bangun dari tidurku. Jika ini kenyataan, aku ingin waktu berjalan lebih lama lagi.  

NB : ini merupakan salah satu cerpen yang masuk dalam anlologi cerpen berjudul Laki-laki di Batas Waktu, Penulis Muda Publisher


Biodata Narator :
Rokhayati, lahir di Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Ia menyukai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMP. Berawal dari keasyikannya menulis diary. Selain kesibukkan kuliah ia sering mengikuti lomba menulis seperti cerpen dan puisi. Ia pernah menjadi kontributor dibeberapa penerbit. Ia dapat dihubungi melalui  Facebook : Rokha An-Nafsi. Atau Contact Person : 085868447269.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Goresan Mimpi

Goresan Mimpi
By : Rokhayati
Malam semakin larut, tak ada lagi celotehan dari teman-teman satu kos ku. Hanya terdengar suara mp3 penghantar tidur. Aku mulai menulis, menuangkan ide brilian. Tanganku menuntun pena untuk menari-nari diatas kertas. Goresan pena membentuk huruf, menyatu menjadi sebuah kata, terangkai menjadi sebuah kalimat. Terbentuklah coretan yang berantakan, acak dan tak karuan. Namun, ku nikmati momen itu. di kesunyian malam saat paling mudah mencari inspirasi. Pikiranku menerawang jauh, mengingat masa-masa SMA ku dulu. Saat aku masih menyukai dunia tulis menulis dan mengikuti berbagai macam lomba. Saat ini aku mulai melupakan dunia tulis menulis. Aku disibukkan dengan berbagai acara kampus yang membuatku melupakan kegemaranku menulis.
*****
            Aku bangun jam tiga pagi. Walaupun agak berat, malas dan dingin yang membuatku ingin tidur lagi. Namun sekarang aku mulai bangun. Memaksakan diri. Dan akhirnya berhasil. Ku matikan alarm setelah berderai kencang. “Akhirnya aku bisa bangun jam tiga” gumamku dengan rasa bangga. Hari-hari sebelumnya, aku berusaha membiasakan diri untuk bangun jam tiga pagi. Namun gagal. Meskipun alarm berbunyi dengan nada keras, aku hanya meraba-raba hp untuk mematikannya. Lalu kulanjutkan tidurku.
Pohon cemara, damar dan pinus menancap dibadan bukit yang miring. Udaranya begitu segar. Alam pegunungan yang begitu indah membawa suasana romantis bagi setiap pasangan yang mendatanginya. Aku bersama Fahri, orang yang aku kagumi sejak awal aku masuk perguruan tinggi. Fahri yang selalu memberikanku motivasi untuk melanjutkan kegemaranku menulis. Aku berdiri di puncak bukit bersamanya. Menikmati keindahan alam membuatku begitu bahagia. Bersamanya ku selalu tersenyum, bersamanya hidupku lebih berwarna. Ahh sungguh indah momen ini. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara “Drrrrrrr Drrrrr, ting tong ting tong, tolelit, tolelit, tolelit.” Suara itu benar-benar memekik telingaku. Suara itu terus berderai kencang. Lalu aku tersadar mendapati diriku sedang memeluk bantal guling. Akhirnya aku pun bangun.
            “Arrgghh, mengganggu.” gerutuku kesal. Alarm membuyarkan mimpi indahku bersama Fahri. Akupun mematikan alaramku dan kembali tidur lagi. Sepuluh menit kemudian alarm kembali berbunyi. Derai kencangnya membangunkan diriku. Lalu aku mematikan kembali alarmnya, tidur lagi. Plong. Aku bangun kesiangan.
            “Lin, kok aku susah ya bangun jam tiga pagi?” tanyaku kepada Lina, teman dekatku. Mukaku tampak begitu lesu.
            “Kalo kamu ingin bangun jam tiga, kamu harus niat dulu sebelum tidur, ucapkan dalam hati secara berulang-ulang “aku bangun jam tiga”  hingga rasa kantuk menghampirimu.” Jawab Lina.
            “serius?” tanyaku sambil memegang lengan Lina
            “enggak. Ya iyalah. Yang penting kamu niat dulu Sa.” Jawab Lina sedikit meledekku.
            “Hmmm, kamu sudah pernah mencobanya?” tanyaku makin penasaran
            “tinggal coba aja kok Sa, aku sering melakukannya.” Jawab Lina meyakinkanku.
            Awalnya aku masih ragu, apa benar yang Lina katakan? Pikirku sebelum tidur. Setelah pikiranku penuh pertimbangan, akhirnya aku mencoba. “aku pasti bisa!” gumamku dalam hati. Sebelum tidur aku niatkan diri bangun jam 3 sesuai saran dari Lina. Aku pun tidur. Dan Benar ! tepat jam tiga aku bangun. Dengan spontan tanpa alarm dan tanpa ada yang membangunkanku. Setelah bangun, ku langkahkan kaki ke kamar mandi untuk mencuci muka dan wudhu. Selanjutnya sholat tahajud, hajat dan menulis.
            Aku terus menulis, sudah sampai empat lembar. Apa yang aku lakukan sudah di tengah jalan. Mungkin tulisan ini tiga lembar lagi, pikirku menebak-nebak. Disaat-saat yang seperti inilah aku harus melawan diriku sendiri. Beban pikiran mulai bermunculan. Apa aku bisa menyelesaikan ini? Beban pikiran perlahan-lahan mulai keluar. Aku berusaha membuyarkanya, namun beban pikiran itu terus bermunculan. Tak henti-henti hingga mendinginkan semangat diriku yang membara. Aku tak ingin seperti dulu lagi, ketika aku menulis dan sudah sampai paragraf satu, aku berhenti, ngeblank, kehabisan ide. Tak tahu apa yang harus aku tulis lagi. Aku merenung.
            “Ketika kau ingin menulis, ya menulislah!” kara-kata penulis terkenal muncul dalam pikiranku. Namun aku bingung harus menulis apa. Entah disambet setan apa, aku mulai kesal. Merobek, meremas-remas kertas yang berisi tulisan yang sudah sampai 4 lembar menjadi bulatan bola kertas kemudian membuangnya ke tempat sampah. Terus berulang-ulang. Dalam hal yang sama, menulis, ngeblank, marah, dan merobek serta meremas-remas tulisanku.
            “apa ini!” aku memaki-maki diriku sendiri.
            “mungkin aku tak mempunyai bakat menulis. Aku tak bisa apa-apa, aku tak mempunyai bakat apapun!” Aku terus menghakimi diriku sendiri.
            Pagi itu semangatku semakin meredup, bahkan mulai padam seperti api yang disiram air. Aku memutuskan untuk berhenti menulis. Kembali ke kebiasaan burukku. Malas-malasan, makan, tidur, makan, tidur lagi lalu facebookan sehabis pulang kuliah sampai maghrib. Namun, saat ku buka facebook dan sekilas aku membaca status dari salah satu teman kuliahku, aku mulai iri, diriku memanas, terbakarlah keirianku.
            “Horeee.. cerpenku masuk majalah story.” Status itu sepintas seperti mengejekku. Seolah-olah tulisan itu hidup, keluar dari layar hpku dan menjalarkan lidah yang amat panjang kehadapanku. Aku mulai kesal terhadapnya. Hatiku iri dan benar-benar iri. Lalu aku ambil pena dan buku diary yang berisi kumpulan cerpen yang pernah ku tulis. Akupun sekilas membaca cerpen yang pernah ku tulis. Aku tertawa melihat tulisanku sendiri. Betapa lucunya tulisanku. Ternyata tulisanku benar-benar bagus, kataku bangga.
            “ternyata aku mempunyai bakat menulis.” Gumamku
            Langit senja berwarna jingga ronanya membara, menjilatku. Aku mulai tersengat. Memanas dan berkobar-kobar lagi. Kembali aku menuangkan ideku menulis. Aku kembali semangat lagi. Lalu ku buka lembara kertas kosong. Ku ancang-ancang untuk menulis. Awalnya aku bingung. “mau nulis apa ya?” pikirku penuh pertimbangan.
            “kalo ingin bisa menulis, ya menulislah!” kata-kata penulis terkenal itu kembali terlintas di benakku. Aku tak boleh menyerah lagi. Aku pun memutuskan untuk berhenti menenangkan pikiranku. Ku tarik nafas panjang, ku keluarkan pelan-pelan. Aku sigap dari tempat dudukku. Lalu berdiri dan mondar-mandir dalam kamarku. Berkali-kali aku mondar-mandir tak terhitung. Cukup lama galau yang kurasakan. Pikiranku berantakan tak tertata. Kemudian aku kembali duduk. Mataku menatap langit-langit kamar. Yang terlihat hanyalah eternit yang bolong digerumuti rayap. Kemudian mataku tertuju pada tembok kamarku yang berada didepan mataku. Sebuah kertas manila berwarna putih yang usang dan berdebu.
            “Petiklah sebuah mimpi, tampunglah dalam sebuah kepercayaan, bawalah dengan tindakan.” Tulisan itu terangkai di kertas yang menempel di tembok itu. Aku terus menatapnya. Aku tah8u apa maksud tulisan itu. “Ya, benar!” kataku dalam hati. Aku harus mempunyai mimpi. Aku harus mempercayai mimpi ini akan terwujud dan aku harus bertindak untuk mengejar mimpi-mimpiku ini. Di benakku terus berkecambuk berbagai macam pikiran. Bagaimana nantinya jika mimpiku tak tergapai? Apa anggapan ibuku, ayahku dan tetangga-tetanggaku kalau aku tak mempunyai mimpi? Orang pasti akan beranggapan bahwa aku tak ada gunanya dan hanya menyusahkan mereka saja. Bayang-banyang itu terus menghakimiku. Penghakiman itu benarbenar membuat diriku terbakar. Emosiku meletup. Meledak. Doarrrr!!!!
            “Ahhhh tidaaakkk !!!!” kedua tanganku memegang kepalaku. Tanpa berpikir panjang akupun kembali melanjutkan tulisanku. Tulisan tentang diriku yang sedang mengejar mimpi. Aku pasti bisa menyelesaikan tulisanku.
            Rona senja berwarna jingga semakin meredup termakan pintu-pintu gelapnya malam. Namun, gelapnya malam tak memakan semangatku. Api semangat berkobar terus membara. Akhirnya akupun bisa menyelesaikan tulisanku. Pada hari-hari berikutnya aku mulai menyukai dunia tulis menulis. Sampai pada akhirnya aku diundang untuk mengisi sebuah acara motivasi berkarya melalui goresan pena.

NB : Cerpen ini merupakan cerpen pertama yang dimuat di salah satu penerbit bernama Al-Qalam Media Lestari.                                                            

Biodata Narator :
Rokhayati, itulah nama lengkapku. Singkat, simple dan indah. Roh artinya jiwa dan hayati berarti sejati. Jiwa sejati? Ya ! itulah nama yang diberikan orang tuaku sejak kecil. Aku dilahirkan di kota Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini aku sedang menempuh studi di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Aku menyukai dunia tulis menulis sejak duduk dibangku SMP. Berawal dari keasyikanku menulis diary. Alamat Fb ku : Rokha An-Nafsi. E-mail : rokhayati96@yahoo.com , khayyaaa@gmail.com


Alunan Melodi Untuk Hanami

Alunan Melodi Untuk Hanami
By : Rokhayati
Ketika sampai waktunya
Alunan melodi pun tengah bersenandung
Bersama indahnya nyanyian disudut malam
Dentang waktu terangkai dalam bingkai angka 00.00
Kemudian…
Kau kan tatap nada-nada indah dalam nyanyian kehidupan
Melodi selamat ulang tahun mengalun indah
Dari mulut peri-peri kedamaian
Kau raba nyalanya lilin
Lalu, gemuruh petasan beterbaran diangkasa
Menambah suasana kian romantis
            Setahun sudah umurmu bertambah
            “Selamat Ulang tahun Hanami”
Malam pergantian ini untukmu
Bersama nyala lilin dalam bingkaian angka
Angka tahun yang kini mulai berubah
Harapan pasti mulai terarah
Tuk kehidupan nan merekah


NB : puisi berjudul Alunan Melodi Untuk Hanami ini berhasil menjadi Pemenang Utama dalam Lomba Menulis Puisi tema Selamat Ulang Tahun  yang diselenggarakan oleh Penerbit Hanami


Biodata Narator :
            Rokhayati, lahir di Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.  Ia beralamat di Jl. Taman Siswa, Gang Kantil 1B rumah no.03, Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Selain kesibukan kuliah, ia juga sering mengikuti beberapa event kepenulisan seperti puisi, cerpen, maupun essay. Ia dapat dihubungi melalui Facebook Rokha An-Nafsi dan E-mail khayyaaa@gmail.com