GEMERLAP
CINTA DI LANGIT LEKDRAT
By :
Rokhayati
Jikalau itu nyata, aku
ingin waktu berjalan lebih lama lagi…
Dinding-dinding
itu masih seperti dulu. Rapuh! mungkin tidak lama lagi akan menghilang dari
dahannya. Seperti dadaunan yang berguguran dikala musim kemarau tiba. Aku
melihat banyak anak sekolah berlalu lalang dihadapanku, tidak ada satupun yang
mau menyapa, mungkin mereka heran ada manusia asing yang masuk dalam wilayah
mereka, atau mungkin mereka malu untuk sekedar menyapa dengan melambaikan
tangan atau mengucapkan salam.
Aku terus
memandangi dinding itu. Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang atau tengak-tengok
kesamping. Tulisan satu tahun yang lalu masih sama. Tidak ada coretan dari
manusia-manusia jail. Tidak ada penambahan huruf, yang ada justru banyak huruf
yang menghilang. Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai
mereka lupa akan tulisan yang terpampang jelas didepan gerbang.
Ku langkahkan kaki melewati pintu
gerbang yang telah rapuh dimakan usia. Ku lihat seorang
laki-laki yang tidak lain adalah satpam sekolah. Satpam pun langsung
mendekatiku dan menanyakan keperluanku.
“Selamat siang, dari mana ini? Kayaknya
alumni sini ya?”
“Siang Pak, iya pak.
Saya alumni sini. Wah bapak masih ingat saya?”
“Ingat wajahnya, tapi lupa namanya,
mari masuk”
Tanpa berbasa-basi
aku langsung masuk mengikuti pak Satpam. Aku duduk di kursi yang 1 tahun lalu masih sering digunakan buat nongkrong
anak-anak yang doyan absen pelajaran. Rasanya
aku merindukan keberadan mereka. Meskipun sering bolos pelajaran mereka tetep
teman yang selalu menghiburku dikala aku senang maupun sedih.
“Mau ada keperluan apa?” Tanya Pak
Satpam sembari mempersilahkan duduk di lobby.
“Saya Reni pak, alumni sekolah ini,
saya ingin bertemu Ustadz Sodiqun, guru bahasa Arab, apakah beliau masih
mengajar disini?”
“masih mbak, tunggu sebentar saya
panggilkan”
Satpam berlalu dari hadapanku. Ingin
rasanya ikut masuk ke ruang guru dan melihat pahlawan tanpa tanda jasa di sana.
Namun, kuurungkan niatku itu. Aku di sini adalah tamu. Tidak mungkin masuk
seenaknya saja. Aku menunduk, memainkan handphone sembari membalas sms
dari salah satu temanku. Terdengar suara gesekan sepatu dari belakang. Suara
itu semakin mendekat. Belum juga aku menoleh, seseorang memanggil namaku. Aku
terkejut bukan main.
“Reni?” sapa seorang laki-laki
memakai jas berwarna biru muda, celana hitam polos dan bersepatu hitam. Kini,
ia berada didepan mataku persis.
“ini Reni Aggraeni kan?”
“Iya, siapa ya?”
“aku Bayu, kau tak ingat?”
“Bayu?”
“Bayu teman sekelasmu dulu, kau
pura-pura lupa?”
Sepertinya nama itu tidak asing
bagiku. Ya! Bayu, aku ingat anak itu. Anak laki-laki yang super bawel. Ternyata
ia bekerja sebagai guru di almamaternya sendiri.
“Bayu, kau terlihat lebih dewasa.”
Ucapku sembari tersenyum kecil. Bayu pun membalas senyumku sambil melangkahkan
kaki duduk berhadapan denganku. Ia mendekatkan wajahnya kehadapanku. Matanya
yang bulat itu sekarang berada didepan mataku persis.
“Kau bercanda, Ren?” tanya Bayu kemudian
“Aku tidak bercanda Bay, kau
terlihat lebih rapi dan…”
“dan ganteng! Benar kan Ren? Hehehe.”
Bayu terkekeh. Sikapnya memang dari dulu belum berubah. Masih suka bercanda dan
kepedean. Ya, seperti itulah kekhasan dari pribadinya yang sering
membuat teman-teman yang lain merasa sedih ketika Bayu tidak berangkat sekolah.
“Ahh, kau ini, dari dulu kepedean.”
Aku tersenyum kecil menanggapi sikap Bayu tersebut. Ia pun belum berhenti
tertawa. Sikapnya yang humoris itu memang membuat semua orang merasa senang
ketika berhadapan dengan Bayu. Seperti diriku. Kedatangan Bayu membuat diriku
lebih santai dan tidak gugup seperti sebelumnya.
“Kalau boleh tahu, ada keperluan apa
kau ke sini, Ren?” tanya Bayu kemudian.
“Ini aku mau mengantarkan surat
untuk Pak Sodiqun.” Aku memperlihatkan amplop yang berisi surat undangan kepada
Bayu. Bayu dengan santainya mengambil amplop itu dari tanganku. Sontak aku
merasa sangat kaget.
“Bay! Hati-hati nanti sobek!” ucapku
dengan muka sebal.
“Nanti aku ganti kalau sobek, Ren.”
Ucap Bayu dengan santainya.
“Ya sudah Ren, kau berikan saja
surat ini padaku, nanti aku berikan kepada Pak Shodiqun, hari ini beliau lagi
sibuk, kemungkinan belum bisa menemuimu.” Lanjut Bayu.
“Apa aku bisa mempercayaimu, Bay?”
“Tenang, Ren. Aku tak akan membuat putri
kerajaan secantik Reni Anggraeni kecewa. Aku pasti akan mengabarimu ketika
surat ini sudah kusampaikan. Tinggalkan saja nomor handphone mu.” Lanjut
Bayu dengan tatapan manisnya. Bayu memang pandai sekali merayu, membujuk dan
mempengaruhi seseorang. Aku pun akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku
menyerahkan amplop tersebut kepada Bayu dan menuliskan nomor handphone ku
sesuai saran dari Bayu.
Setelah pertemuan itu, aku menjadi
sering berkomunikasi dengan Bayu. Aku seperti menemukan kembali sahabat lamaku
yang teramat aku rindukan itu. Aku tidak menyangka kedatanganku ke almamater
tercinta itu mempertemukan aku dengan Bayu. Terkadang, ketika aku sedang bosan dengan
tugas kuliah yang semakin menumpuk, Bayu menghiburku dengan lawaknnya. Ia mengisi
hari-hariku yang kosong, meskipun hanya lewat handphone. Aku cukup
senang dengan kehadirannya kembali dalam kehidupanku.
“Ren, suratnya sudah sampai
kepada penerima :D” itulah sms pertama yang ku baca dari Bayu. Ia
tak mengingkari janjinya. Tak seperti dahulu. Setiap kali aku memintanya
meminjamkan buku ke perpustakaan ia hanya mengangguk tetapi tidak
mengambilkannya. Ia malah sibuk bermain bersama teman-temannya.
“Bay, bisa minta tolong pinjamkan
buku Lupus di perpustakaan? Pakai kartu perpusmu ya, soalnya kartuku masih di
sana.” Ucapku dengan lembut.
“Oke, siap laksanakan!” Bayu
mengedipkan mata kananya kepadaku pertanda ia mau meminjamkan buku ke
perpustakaan. Beberapa menit kemudian ia melesat keluar kelas bersama
teman-temannya.
Aku menunggu Bayu di kelas lebih
dari 25 menit. Padahal buku Lupus itu akan segera aku resensi. Aku semakin
tidak sabar. Akhirnya aku pergi ke perpus sendiri. Sampai di perpus aku tidak
melihat Bayu di sana. Kemudian aku melihat daftar hadir peserta perpustakaan.
Tidak ada nama Bayu di daftar tersebut. “Ahh, dia membohongiku lagi.” Gerutuku
kesal. Aku pun akhirnya meminjam buku Lupus itu dengan kartu milik temanku.
Sampai di kelas, Bayu pun tidak menyapaku sedikitpun. Ia terus bergurau denga
teman-temannya. Membuat diriku semakin panas dan kecewa terhadapnya.
Dua hari setelah kejadian itu, aku
menjadi cuek dengan kehadiran Bayu.
“Ren, kau kenapa? Apa aku ada salah
ke kamu?” Tanya Bayu sembari menarik kursi yang ada disamping kananku kemudian
membawanya di depan mejaku. Ia berhadap-hadapan denganku.
“Pikir saja sendiri!” ucapku dengan
muka sebal. Aku terus menyibukan diri membaca novel yang sedang ku pegang.
“Ren, kalau aku ada salah aku minta
maaf, jangan diam-diaman seperti ini, tidak baik lho, katanya sahabat.”
“Sudahlah Bay, aku capek dibohongi
terus.” Aku membanting bolpoin yang ada ditanganku ke meja. Kemudian aku
berdiri.
“Dibohongi bagaimana?” Bayu
menimpali.
“Kau selalu seperti itu, kenapa kau
tidak pernah sedikitpun serius, Bay?” Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. Entah
perasaan apa yang sedang menyelimutiku. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu
aku berlari menyusuri koridor sekolah. Aku menangis sebisanya.
“Ren… tunggu!!!” Seru Bayu dari
kejauhan. Aku terus berlari sambil mengusap tetasan air mata yang terus saja
menetes. Sampai bel tanda masuk berbunyi, aku masih terus menangis ditaman
samping sekolah.
Kesedihanku berakhir dengan
kemenangan Bayu meluluhkan hatiku. Pada sore harinya ia mengirim sebuah bunga mawar
berwarna putih dan surat permohonan maaf padaku. Tidak bisa aku jelaskan betapa
sangat bahagia mempunyai seorang sahabat seperti Bayu. Terkadang aku merasa
kecewa dengan sikapnya yang tidak pernah serius. Namun, banyak hal yang Bayu
miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ya, kekurangan Bayu telah ditutupi
dengan kelebihan yang ia miliki. Dimataku ia sahabat yang sempurna.
Tiba-tiba aku tersenyum sendiri
mengingat kenangan sewaktu SMA itu. Sungguh ingin ku ulang kembali kebersamaan
bersama Bayu dan sahabat lainnya. Beberapa menit kemudian Bayu menelfonku. Aku
buru-buru mengangkat telefonnya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam. Ren, lama banget
balas smsnya!”
“Ini baru akan kubalas, kau tak
sabar menunggu balasanku?” aku sedikit meledek Bayu.
“Tidak juga! Ya, aku kan cuma
memastikan smsnya sudah masuk atau belum.” Jawab Bayu tidak mau mengalah.
“Oke, mau aku balas sekarang, Bay?”
“Ya sudah balas di sini saja, aku
sudah menghabiskan pulsa untuk menelfonmu.”
“Iya, terimakasih Bayu Nugroho.”
“Cuma terimakasih, Ren?”
“Terus minta apa lagi, Bay?”
“Traktir makan nanti ba’da Isya di Lekdrat
depan alfamart. Titik! Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.” Tut tut tut…
Bayu mematikan telefonnya. “Ahh dasar dikasih hati minta jantung. “ batinku
dalam hati. Aku kembali mengerjakan tugas kuliah yang masih menumpuk. Kuliah S2
memang terkadang menyita banyak waktu. Tetapi, untuk sebuah impian terbesar
dalam hidupku, tidak ada salahnya mencoba untuk mewujudkannya.
Setelah sholat Isya, aku buru-buru
memakai jilbab dan menghias diri seperlunya. Di depan kost sudah
terdengar suara klakson sepeda motor. Aku melihat dari jendela kamar. “Bayu.”
Ucapku pelan. Ku ambil tas slempang yang biasa ku pakai, ku berlari keluar
kamar dan tidak lupa mengunci kamar terlebih dahulu.
“Ren, ayooo cepat, keburu hujan.”
Seru Bayu. Sekilas aku memandang wajahnya dari kejauhan. Ia terlihat sangat
berbeda dengan memakai celana jeans dan jaket bewarna biru putih.
“Oke.” Seruku sembari berlari ke
depan halaman kost. Entah dari mana asalnya tiba-tiba perasaan canggung
menghampiriku. Namun, aku terus berusaha membuyarkannya. Aku pun menaiki sepeda
motor bersama Bayu. Sesampainya di depan Lekdrat, Bayu tiba-tiba menutup
mataku dengan slayer bewarna hitam.
“Bay, apa ini!” seruku sembari
memegang slayer yang sudah dilingkarkan ke mataku.
“Sebentar saja kok, Ren. Jangan
ngintip ya?” ucap Bayu. Aku berjalan dengan dituntun oleh Bayu. Aku tidak bisa
melihat apapun. Semuanya gelap. Setelah langkah Bayu terhenti, langkahkupun
ikut terhenti. Perlahan Bayu melepas slayer yang menutupi mataku.
“Tarraaaaa…” Sebuah tempat yang
sangat indah kini berada di depan mataku. Balon-balon bertuliskan namaku dengan
nama Bayu berjejer memenuhi setiap pohon hias yang cantik. Lampu-lampu kecil
berderet, berkelap kelip dan berwana-warni. Di lantai bertebaran bunga-bunga
cantik nan indah membentuk huruf R dan D. Disebelah kiri aku melihat rangkaian
tulisan “Persahabatan”. Sedangkan disebelah kanan, terdapat tulisan “Cinta”
dengan dilengkapi kerlipan lampu-lampu kecil. Sungguh desain yang sangat indah.
Beberapa menit kemudian, sebuah alunan musik gitar terdengar merdu sampai
ditelingaku. Seorang laki-laki dengan memainkan gitarnya terlihat berjalan
mendekatiku. Ia menyanyikan sebuah lagu persahabatan yang melow. Aku pun
berjalan mendekatinya.
“Bayu…” seruku sembari menutup
mulutku karena tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku. Sebuah senyum
mengembang terlukis di wajah Bayu yang bulat lonjong itu. Sambil memainkan
gitar dan bernyanyi, ia terus memandangiku dengan senyum manisnya. Betapa
bahagianya diriku. Sebuah moment indah yang tak akan terlupakan. Moment
persahabatan yang dibalut rasa kasih dan sayang yang saling melengkapi satu
sama lain. Oh Tuhan… Jika ini mimpi, aku tak ingin bangun dari tidurku. Jika
ini kenyataan, aku ingin waktu berjalan lebih lama lagi.
NB : ini merupakan salah satu cerpen yang masuk dalam anlologi cerpen berjudul Laki-laki di Batas Waktu, Penulis Muda Publisher
Rokhayati, lahir di Banyumas pada tanggal 1
November 1996. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Bahasa dan
Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Ia
menyukai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMP. Berawal dari
keasyikannya menulis diary. Selain kesibukkan kuliah ia sering mengikuti
lomba menulis seperti cerpen dan puisi. Ia pernah menjadi kontributor
dibeberapa penerbit. Ia dapat dihubungi melalui
Facebook : Rokha An-Nafsi. Atau Contact Person :
085868447269.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar