Senin, 29 Agustus 2016

Gemerlap Cinta di Langit Lekdrat

GEMERLAP CINTA DI LANGIT LEKDRAT
By : Rokhayati
Jikalau itu nyata, aku ingin waktu berjalan lebih lama lagi…
Dinding-dinding itu masih seperti dulu. Rapuh! mungkin tidak lama lagi akan menghilang dari dahannya. Seperti dadaunan yang berguguran dikala musim kemarau tiba. Aku melihat banyak anak sekolah berlalu lalang dihadapanku, tidak ada satupun yang mau menyapa, mungkin mereka heran ada manusia asing yang masuk dalam wilayah mereka, atau mungkin mereka malu untuk sekedar menyapa dengan melambaikan tangan atau mengucapkan salam.
Aku terus memandangi dinding itu. Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang atau tengak-tengok kesamping. Tulisan satu tahun yang lalu masih sama. Tidak ada coretan dari manusia-manusia jail. Tidak ada penambahan huruf, yang ada justru banyak huruf yang menghilang. Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai mereka lupa akan tulisan yang terpampang jelas didepan gerbang.
            Ku langkahkan kaki melewati pintu gerbang yang telah rapuh dimakan usia. Ku lihat seorang laki-laki yang tidak lain adalah satpam sekolah. Satpam pun langsung mendekatiku dan menanyakan keperluanku.
            “Selamat siang, dari mana ini? Kayaknya alumni sini ya?”
            “Siang Pak, iya pak. Saya alumni sini. Wah bapak masih ingat saya?”
            “Ingat wajahnya, tapi lupa namanya, mari masuk”
Tanpa berbasa-basi aku langsung masuk mengikuti pak Satpam. Aku duduk di kursi yang 1 tahun  lalu masih sering digunakan buat nongkrong anak-anak yang doyan absen  pelajaran. Rasanya aku merindukan keberadan mereka. Meskipun sering bolos pelajaran mereka tetep teman yang selalu menghiburku dikala aku senang maupun sedih.  
            “Mau ada keperluan apa?” Tanya Pak Satpam sembari mempersilahkan duduk di lobby.
            “Saya Reni pak, alumni sekolah ini, saya ingin bertemu Ustadz Sodiqun, guru bahasa Arab, apakah beliau masih mengajar disini?”
            “masih mbak, tunggu sebentar saya panggilkan”
            Satpam berlalu dari hadapanku. Ingin rasanya ikut masuk ke ruang guru dan melihat pahlawan tanpa tanda jasa di sana. Namun, kuurungkan niatku itu. Aku di sini adalah tamu. Tidak mungkin masuk seenaknya saja. Aku menunduk, memainkan handphone sembari membalas sms dari salah satu temanku. Terdengar suara gesekan sepatu dari belakang. Suara itu semakin mendekat. Belum juga aku menoleh, seseorang memanggil namaku. Aku terkejut bukan main.
            “Reni?” sapa seorang laki-laki memakai jas berwarna biru muda, celana hitam polos dan bersepatu hitam. Kini, ia berada didepan mataku persis.
            “ini Reni Aggraeni kan?”
            “Iya, siapa ya?”
            “aku Bayu, kau tak ingat?”
            “Bayu?”
            “Bayu teman sekelasmu dulu, kau pura-pura lupa?”
            Sepertinya nama itu tidak asing bagiku. Ya! Bayu, aku ingat anak itu. Anak laki-laki yang super bawel. Ternyata ia bekerja sebagai guru di almamaternya sendiri.
            “Bayu, kau terlihat lebih dewasa.” Ucapku sembari tersenyum kecil. Bayu pun membalas senyumku sambil melangkahkan kaki duduk berhadapan denganku. Ia mendekatkan wajahnya kehadapanku. Matanya yang bulat itu sekarang berada didepan mataku persis.
            “Kau bercanda, Ren?” tanya Bayu kemudian
            “Aku tidak bercanda Bay, kau terlihat lebih rapi dan…”
            “dan ganteng! Benar kan Ren? Hehehe.” Bayu terkekeh. Sikapnya memang dari dulu belum berubah. Masih suka bercanda dan kepedean. Ya, seperti itulah kekhasan dari pribadinya yang sering membuat teman-teman yang lain merasa sedih ketika Bayu tidak berangkat sekolah.
            “Ahh, kau ini, dari dulu kepedean.” Aku tersenyum kecil menanggapi sikap Bayu tersebut. Ia pun belum berhenti tertawa. Sikapnya yang humoris itu memang membuat semua orang merasa senang ketika berhadapan dengan Bayu. Seperti diriku. Kedatangan Bayu membuat diriku lebih santai dan tidak gugup seperti sebelumnya.
            “Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kau ke sini, Ren?” tanya Bayu kemudian.
            “Ini aku mau mengantarkan surat untuk Pak Sodiqun.” Aku memperlihatkan amplop yang berisi surat undangan kepada Bayu. Bayu dengan santainya mengambil amplop itu dari tanganku. Sontak aku merasa sangat kaget.
            “Bay! Hati-hati nanti sobek!” ucapku dengan muka sebal.
            “Nanti aku ganti kalau sobek, Ren.” Ucap Bayu dengan santainya.
            “Ya sudah Ren, kau berikan saja surat ini padaku, nanti aku berikan kepada Pak Shodiqun, hari ini beliau lagi sibuk, kemungkinan belum bisa menemuimu.” Lanjut Bayu.
            “Apa aku bisa mempercayaimu, Bay?”
            “Tenang, Ren. Aku tak akan membuat putri kerajaan secantik Reni Anggraeni kecewa. Aku pasti akan mengabarimu ketika surat ini sudah kusampaikan. Tinggalkan saja nomor handphone mu.” Lanjut Bayu dengan tatapan manisnya. Bayu memang pandai sekali merayu, membujuk dan mempengaruhi seseorang. Aku pun akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku menyerahkan amplop tersebut kepada Bayu dan menuliskan nomor handphone ku sesuai saran dari Bayu.
            Setelah pertemuan itu, aku menjadi sering berkomunikasi dengan Bayu. Aku seperti menemukan kembali sahabat lamaku yang teramat aku rindukan itu. Aku tidak menyangka kedatanganku ke almamater tercinta itu mempertemukan aku dengan Bayu. Terkadang, ketika aku sedang bosan dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk, Bayu menghiburku dengan lawaknnya. Ia mengisi hari-hariku yang kosong, meskipun hanya lewat handphone. Aku cukup senang dengan kehadirannya kembali dalam kehidupanku.
            “Ren, suratnya sudah sampai kepada penerima :D” itulah sms pertama yang ku baca dari Bayu. Ia tak mengingkari janjinya. Tak seperti dahulu. Setiap kali aku memintanya meminjamkan buku ke perpustakaan ia hanya mengangguk tetapi tidak mengambilkannya. Ia malah sibuk bermain bersama teman-temannya.
            “Bay, bisa minta tolong pinjamkan buku Lupus di perpustakaan? Pakai kartu perpusmu ya, soalnya kartuku masih di sana.” Ucapku dengan lembut.
            “Oke, siap laksanakan!” Bayu mengedipkan mata kananya kepadaku pertanda ia mau meminjamkan buku ke perpustakaan. Beberapa menit kemudian ia melesat keluar kelas bersama teman-temannya.
            Aku menunggu Bayu di kelas lebih dari 25 menit. Padahal buku Lupus itu akan segera aku resensi. Aku semakin tidak sabar. Akhirnya aku pergi ke perpus sendiri. Sampai di perpus aku tidak melihat Bayu di sana. Kemudian aku melihat daftar hadir peserta perpustakaan. Tidak ada nama Bayu di daftar tersebut. “Ahh, dia membohongiku lagi.” Gerutuku kesal. Aku pun akhirnya meminjam buku Lupus itu dengan kartu milik temanku. Sampai di kelas, Bayu pun tidak menyapaku sedikitpun. Ia terus bergurau denga teman-temannya. Membuat diriku semakin panas dan kecewa terhadapnya.
            Dua hari setelah kejadian itu, aku menjadi cuek dengan kehadiran Bayu.
            “Ren, kau kenapa? Apa aku ada salah ke kamu?” Tanya Bayu sembari menarik kursi yang ada disamping kananku kemudian membawanya di depan mejaku. Ia berhadap-hadapan denganku.
            “Pikir saja sendiri!” ucapku dengan muka sebal. Aku terus menyibukan diri membaca novel yang sedang ku pegang.
            “Ren, kalau aku ada salah aku minta maaf, jangan diam-diaman seperti ini, tidak baik lho, katanya sahabat.”
            “Sudahlah Bay, aku capek dibohongi terus.” Aku membanting bolpoin yang ada ditanganku ke meja. Kemudian aku berdiri.
            “Dibohongi bagaimana?” Bayu menimpali.
            “Kau selalu seperti itu, kenapa kau tidak pernah sedikitpun serius, Bay?” Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. Entah perasaan apa yang sedang menyelimutiku. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu aku berlari menyusuri koridor sekolah. Aku menangis sebisanya.
            “Ren… tunggu!!!” Seru Bayu dari kejauhan. Aku terus berlari sambil mengusap tetasan air mata yang terus saja menetes. Sampai bel tanda masuk berbunyi, aku masih terus menangis ditaman samping sekolah.
            Kesedihanku berakhir dengan kemenangan Bayu meluluhkan hatiku. Pada sore harinya ia mengirim sebuah bunga mawar berwarna putih dan surat permohonan maaf padaku. Tidak bisa aku jelaskan betapa sangat bahagia mempunyai seorang sahabat seperti Bayu. Terkadang aku merasa kecewa dengan sikapnya yang tidak pernah serius. Namun, banyak hal yang Bayu miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ya, kekurangan Bayu telah ditutupi dengan kelebihan yang ia miliki. Dimataku ia sahabat yang sempurna.
            Tiba-tiba aku tersenyum sendiri mengingat kenangan sewaktu SMA itu. Sungguh ingin ku ulang kembali kebersamaan bersama Bayu dan sahabat lainnya. Beberapa menit kemudian Bayu menelfonku. Aku buru-buru mengangkat telefonnya.
            “Assalamualaikum.”
            “Waalaikumussalam. Ren, lama banget balas smsnya!”
            “Ini baru akan kubalas, kau tak sabar menunggu balasanku?” aku sedikit meledek Bayu.
            “Tidak juga! Ya, aku kan cuma memastikan smsnya sudah masuk atau belum.” Jawab Bayu tidak mau mengalah.
            “Oke, mau aku balas sekarang, Bay?”
            “Ya sudah balas di sini saja, aku sudah menghabiskan pulsa untuk menelfonmu.”
            “Iya, terimakasih Bayu Nugroho.”
            “Cuma terimakasih, Ren?”
            “Terus minta apa lagi, Bay?”
            “Traktir makan nanti ba’da Isya di Lekdrat depan alfamart. Titik! Assalamualaikum.”
            “Waalaikumussalam.” Tut tut tut… Bayu mematikan telefonnya. “Ahh dasar dikasih hati minta jantung. “ batinku dalam hati. Aku kembali mengerjakan tugas kuliah yang masih menumpuk. Kuliah S2 memang terkadang menyita banyak waktu. Tetapi, untuk sebuah impian terbesar dalam hidupku, tidak ada salahnya mencoba untuk mewujudkannya.
            Setelah sholat Isya, aku buru-buru memakai jilbab dan menghias diri seperlunya. Di depan kost sudah terdengar suara klakson sepeda motor. Aku melihat dari jendela kamar. “Bayu.” Ucapku pelan. Ku ambil tas slempang yang biasa ku pakai, ku berlari keluar kamar dan tidak lupa mengunci kamar terlebih dahulu.
            “Ren, ayooo cepat, keburu hujan.” Seru Bayu. Sekilas aku memandang wajahnya dari kejauhan. Ia terlihat sangat berbeda dengan memakai celana jeans dan jaket bewarna biru putih.
            “Oke.” Seruku sembari berlari ke depan halaman kost. Entah dari mana asalnya tiba-tiba perasaan canggung menghampiriku. Namun, aku terus berusaha membuyarkannya. Aku pun menaiki sepeda motor bersama Bayu. Sesampainya di depan Lekdrat, Bayu tiba-tiba menutup mataku dengan slayer bewarna hitam.
            “Bay, apa ini!” seruku sembari memegang slayer yang sudah dilingkarkan ke mataku.
            “Sebentar saja kok, Ren. Jangan ngintip ya?” ucap Bayu. Aku berjalan dengan dituntun oleh Bayu. Aku tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap. Setelah langkah Bayu terhenti, langkahkupun ikut terhenti. Perlahan Bayu melepas slayer yang menutupi mataku.
            “Tarraaaaa…” Sebuah tempat yang sangat indah kini berada di depan mataku. Balon-balon bertuliskan namaku dengan nama Bayu berjejer memenuhi setiap pohon hias yang cantik. Lampu-lampu kecil berderet, berkelap kelip dan berwana-warni. Di lantai bertebaran bunga-bunga cantik nan indah membentuk huruf R dan D. Disebelah kiri aku melihat rangkaian tulisan “Persahabatan”. Sedangkan disebelah kanan, terdapat tulisan “Cinta” dengan dilengkapi kerlipan lampu-lampu kecil. Sungguh desain yang sangat indah. Beberapa menit kemudian, sebuah alunan musik gitar terdengar merdu sampai ditelingaku. Seorang laki-laki dengan memainkan gitarnya terlihat berjalan mendekatiku. Ia menyanyikan sebuah lagu persahabatan yang melow. Aku pun berjalan mendekatinya.
            “Bayu…” seruku sembari menutup mulutku karena tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku. Sebuah senyum mengembang terlukis di wajah Bayu yang bulat lonjong itu. Sambil memainkan gitar dan bernyanyi, ia terus memandangiku dengan senyum manisnya. Betapa bahagianya diriku. Sebuah moment indah yang tak akan terlupakan. Moment persahabatan yang dibalut rasa kasih dan sayang yang saling melengkapi satu sama lain. Oh Tuhan… Jika ini mimpi, aku tak ingin bangun dari tidurku. Jika ini kenyataan, aku ingin waktu berjalan lebih lama lagi.  

NB : ini merupakan salah satu cerpen yang masuk dalam anlologi cerpen berjudul Laki-laki di Batas Waktu, Penulis Muda Publisher


Biodata Narator :
Rokhayati, lahir di Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Ia menyukai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMP. Berawal dari keasyikannya menulis diary. Selain kesibukkan kuliah ia sering mengikuti lomba menulis seperti cerpen dan puisi. Ia pernah menjadi kontributor dibeberapa penerbit. Ia dapat dihubungi melalui  Facebook : Rokha An-Nafsi. Atau Contact Person : 085868447269.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar