Goresan
Mimpi
By : Rokhayati
By : Rokhayati
Malam semakin larut, tak ada lagi celotehan
dari teman-teman satu kos ku. Hanya terdengar suara mp3 penghantar tidur. Aku mulai
menulis, menuangkan ide brilian. Tanganku menuntun pena untuk menari-nari
diatas kertas. Goresan pena membentuk huruf, menyatu menjadi sebuah kata,
terangkai menjadi sebuah kalimat. Terbentuklah coretan yang berantakan, acak
dan tak karuan. Namun, ku nikmati momen itu. di kesunyian malam saat paling
mudah mencari inspirasi. Pikiranku menerawang jauh, mengingat masa-masa SMA ku
dulu. Saat aku masih menyukai dunia tulis menulis dan mengikuti berbagai macam
lomba. Saat ini aku mulai melupakan dunia tulis menulis. Aku disibukkan dengan
berbagai acara kampus yang membuatku melupakan kegemaranku menulis.
*****
Aku bangun jam tiga pagi. Walaupun agak berat, malas dan dingin yang
membuatku ingin tidur lagi. Namun sekarang aku mulai bangun. Memaksakan diri.
Dan akhirnya berhasil. Ku matikan alarm setelah berderai kencang. “Akhirnya aku
bisa bangun jam tiga” gumamku dengan rasa bangga. Hari-hari sebelumnya, aku
berusaha membiasakan diri untuk bangun jam tiga pagi. Namun gagal. Meskipun
alarm berbunyi dengan nada keras, aku hanya meraba-raba hp untuk mematikannya.
Lalu kulanjutkan tidurku.
Pohon cemara, damar dan pinus menancap
dibadan bukit yang miring. Udaranya begitu segar. Alam pegunungan yang begitu indah
membawa suasana romantis bagi setiap pasangan yang mendatanginya. Aku bersama
Fahri, orang yang aku kagumi sejak awal aku masuk perguruan tinggi. Fahri yang
selalu memberikanku motivasi untuk melanjutkan kegemaranku menulis. Aku berdiri
di puncak bukit bersamanya. Menikmati keindahan alam membuatku begitu bahagia.
Bersamanya ku selalu tersenyum, bersamanya hidupku lebih berwarna. Ahh sungguh indah momen ini. Tiba-tiba aku
mendengar sebuah suara “Drrrrrrr Drrrrr, ting tong ting tong, tolelit, tolelit,
tolelit.” Suara itu benar-benar memekik telingaku. Suara itu terus berderai kencang. Lalu aku tersadar mendapati diriku sedang
memeluk bantal guling. Akhirnya aku pun bangun.
“Arrgghh,
mengganggu.” gerutuku kesal. Alarm membuyarkan mimpi indahku bersama Fahri.
Akupun mematikan alaramku dan kembali tidur lagi. Sepuluh menit kemudian alarm
kembali berbunyi. Derai kencangnya membangunkan diriku. Lalu aku mematikan
kembali alarmnya, tidur lagi. Plong. Aku bangun kesiangan.
“Lin,
kok aku susah ya bangun jam tiga pagi?” tanyaku kepada Lina, teman dekatku.
Mukaku tampak begitu lesu.
“Kalo
kamu ingin bangun jam tiga, kamu harus niat dulu sebelum tidur, ucapkan dalam
hati secara berulang-ulang “aku bangun jam tiga” hingga rasa kantuk menghampirimu.” Jawab Lina.
“serius?”
tanyaku sambil memegang lengan Lina
“enggak. Ya iyalah. Yang penting kamu niat
dulu Sa.” Jawab Lina sedikit meledekku.
“Hmmm,
kamu sudah pernah mencobanya?” tanyaku makin penasaran
“tinggal
coba aja kok Sa, aku sering melakukannya.” Jawab Lina meyakinkanku.
Awalnya
aku masih ragu, apa benar yang Lina katakan? Pikirku sebelum tidur. Setelah
pikiranku penuh pertimbangan, akhirnya aku mencoba. “aku pasti bisa!” gumamku dalam hati. Sebelum
tidur aku niatkan diri bangun jam 3 sesuai saran dari Lina. Aku pun tidur. Dan
Benar ! tepat jam tiga aku bangun. Dengan spontan tanpa alarm dan tanpa ada
yang membangunkanku. Setelah bangun, ku langkahkan kaki ke kamar mandi untuk
mencuci muka dan wudhu. Selanjutnya sholat tahajud, hajat dan menulis.
Aku
terus menulis, sudah sampai empat lembar. Apa yang aku lakukan sudah di tengah jalan. Mungkin
tulisan ini tiga lembar lagi, pikirku menebak-nebak. Disaat-saat yang seperti
inilah aku harus melawan diriku sendiri. Beban pikiran mulai bermunculan. Apa
aku bisa menyelesaikan ini? Beban pikiran perlahan-lahan mulai keluar. Aku
berusaha membuyarkanya, namun beban pikiran itu terus bermunculan. Tak
henti-henti hingga mendinginkan semangat diriku yang membara. Aku tak ingin
seperti dulu lagi, ketika aku menulis dan sudah sampai paragraf satu, aku
berhenti, ngeblank, kehabisan ide. Tak tahu apa yang harus aku tulis lagi. Aku
merenung.
“Ketika
kau ingin menulis, ya menulislah!” kara-kata penulis terkenal muncul dalam
pikiranku. Namun aku bingung harus menulis apa. Entah disambet setan apa, aku
mulai kesal. Merobek, meremas-remas kertas yang berisi tulisan yang sudah
sampai 4 lembar menjadi bulatan bola kertas kemudian membuangnya ke tempat
sampah. Terus berulang-ulang. Dalam hal yang sama, menulis, ngeblank, marah,
dan merobek serta meremas-remas tulisanku.
“apa
ini!” aku memaki-maki diriku sendiri.
“mungkin
aku tak mempunyai bakat menulis. Aku tak bisa apa-apa, aku tak mempunyai bakat apapun!”
Aku terus menghakimi diriku sendiri.
Pagi
itu semangatku semakin meredup, bahkan mulai padam seperti api yang disiram
air. Aku memutuskan untuk berhenti menulis. Kembali ke kebiasaan burukku. Malas-malasan,
makan, tidur, makan, tidur lagi lalu facebookan sehabis pulang kuliah
sampai maghrib. Namun, saat ku buka facebook dan sekilas aku membaca
status dari salah satu teman kuliahku, aku mulai iri, diriku memanas,
terbakarlah keirianku.
“Horeee.. cerpenku masuk majalah story.”
Status itu sepintas seperti mengejekku.
Seolah-olah tulisan itu hidup, keluar dari layar hpku dan menjalarkan lidah
yang amat panjang kehadapanku. Aku mulai kesal terhadapnya. Hatiku iri dan
benar-benar iri. Lalu aku ambil pena dan buku diary yang berisi kumpulan
cerpen yang pernah ku tulis. Akupun sekilas membaca cerpen yang pernah ku
tulis. Aku tertawa melihat tulisanku sendiri. Betapa lucunya tulisanku.
Ternyata tulisanku benar-benar bagus, kataku bangga.
“ternyata
aku mempunyai bakat menulis.” Gumamku
Langit
senja berwarna jingga ronanya membara, menjilatku. Aku mulai tersengat. Memanas
dan berkobar-kobar lagi. Kembali aku menuangkan ideku menulis. Aku kembali
semangat lagi. Lalu ku buka lembara kertas kosong. Ku ancang-ancang untuk
menulis. Awalnya aku bingung. “mau nulis apa ya?” pikirku penuh pertimbangan.
“kalo
ingin bisa menulis, ya menulislah!” kata-kata penulis terkenal itu kembali
terlintas di benakku. Aku tak boleh menyerah lagi. Aku pun memutuskan untuk
berhenti menenangkan pikiranku. Ku tarik nafas panjang, ku keluarkan pelan-pelan.
Aku sigap dari tempat dudukku. Lalu berdiri dan mondar-mandir dalam kamarku.
Berkali-kali aku mondar-mandir tak terhitung. Cukup lama galau yang kurasakan.
Pikiranku berantakan tak tertata. Kemudian aku kembali duduk. Mataku menatap
langit-langit kamar. Yang terlihat hanyalah eternit yang bolong digerumuti
rayap. Kemudian mataku tertuju pada tembok kamarku yang berada didepan mataku.
Sebuah kertas manila berwarna putih yang usang dan berdebu.
“Petiklah
sebuah mimpi, tampunglah dalam sebuah kepercayaan, bawalah dengan tindakan.”
Tulisan itu terangkai di kertas yang menempel di tembok itu. Aku terus
menatapnya. Aku tah8u apa maksud tulisan itu. “Ya, benar!” kataku dalam hati.
Aku harus mempunyai mimpi. Aku harus mempercayai mimpi ini akan terwujud dan
aku harus bertindak untuk mengejar mimpi-mimpiku ini. Di benakku terus
berkecambuk berbagai macam pikiran. Bagaimana nantinya jika mimpiku tak
tergapai? Apa anggapan ibuku, ayahku dan tetangga-tetanggaku kalau aku tak
mempunyai mimpi? Orang pasti akan beranggapan bahwa aku tak ada gunanya dan
hanya menyusahkan mereka saja. Bayang-banyang itu terus menghakimiku.
Penghakiman itu benarbenar membuat diriku terbakar. Emosiku meletup. Meledak.
Doarrrr!!!!
“Ahhhh
tidaaakkk !!!!” kedua tanganku memegang kepalaku. Tanpa berpikir panjang akupun
kembali melanjutkan tulisanku. Tulisan tentang diriku yang sedang mengejar
mimpi. Aku pasti bisa menyelesaikan tulisanku.
Rona
senja berwarna jingga semakin meredup termakan pintu-pintu gelapnya malam.
Namun, gelapnya malam tak memakan semangatku. Api semangat berkobar terus
membara. Akhirnya akupun bisa menyelesaikan tulisanku. Pada hari-hari berikutnya
aku mulai menyukai dunia tulis menulis. Sampai pada akhirnya aku diundang untuk
mengisi sebuah acara motivasi berkarya melalui goresan pena.
NB : Cerpen ini merupakan cerpen pertama yang
dimuat di salah satu penerbit bernama Al-Qalam Media Lestari.
Biodata Narator :
Rokhayati, itulah nama lengkapku. Singkat, simple dan indah. Roh artinya jiwa
dan hayati berarti sejati. Jiwa sejati? Ya ! itulah nama yang diberikan orang
tuaku sejak kecil. Aku dilahirkan di kota Banyumas pada tanggal 1 November
1996. Saat ini aku sedang menempuh studi di Universitas Negeri Semarang
(UNNES). Aku menyukai dunia tulis menulis sejak duduk dibangku SMP. Berawal
dari keasyikanku menulis diary. Alamat Fb ku : Rokha An-Nafsi. E-mail : rokhayati96@yahoo.com , khayyaaa@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar