Sabtu, 27 Agustus 2016

Goresan Mimpi

Goresan Mimpi
By : Rokhayati
Malam semakin larut, tak ada lagi celotehan dari teman-teman satu kos ku. Hanya terdengar suara mp3 penghantar tidur. Aku mulai menulis, menuangkan ide brilian. Tanganku menuntun pena untuk menari-nari diatas kertas. Goresan pena membentuk huruf, menyatu menjadi sebuah kata, terangkai menjadi sebuah kalimat. Terbentuklah coretan yang berantakan, acak dan tak karuan. Namun, ku nikmati momen itu. di kesunyian malam saat paling mudah mencari inspirasi. Pikiranku menerawang jauh, mengingat masa-masa SMA ku dulu. Saat aku masih menyukai dunia tulis menulis dan mengikuti berbagai macam lomba. Saat ini aku mulai melupakan dunia tulis menulis. Aku disibukkan dengan berbagai acara kampus yang membuatku melupakan kegemaranku menulis.
*****
            Aku bangun jam tiga pagi. Walaupun agak berat, malas dan dingin yang membuatku ingin tidur lagi. Namun sekarang aku mulai bangun. Memaksakan diri. Dan akhirnya berhasil. Ku matikan alarm setelah berderai kencang. “Akhirnya aku bisa bangun jam tiga” gumamku dengan rasa bangga. Hari-hari sebelumnya, aku berusaha membiasakan diri untuk bangun jam tiga pagi. Namun gagal. Meskipun alarm berbunyi dengan nada keras, aku hanya meraba-raba hp untuk mematikannya. Lalu kulanjutkan tidurku.
Pohon cemara, damar dan pinus menancap dibadan bukit yang miring. Udaranya begitu segar. Alam pegunungan yang begitu indah membawa suasana romantis bagi setiap pasangan yang mendatanginya. Aku bersama Fahri, orang yang aku kagumi sejak awal aku masuk perguruan tinggi. Fahri yang selalu memberikanku motivasi untuk melanjutkan kegemaranku menulis. Aku berdiri di puncak bukit bersamanya. Menikmati keindahan alam membuatku begitu bahagia. Bersamanya ku selalu tersenyum, bersamanya hidupku lebih berwarna. Ahh sungguh indah momen ini. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara “Drrrrrrr Drrrrr, ting tong ting tong, tolelit, tolelit, tolelit.” Suara itu benar-benar memekik telingaku. Suara itu terus berderai kencang. Lalu aku tersadar mendapati diriku sedang memeluk bantal guling. Akhirnya aku pun bangun.
            “Arrgghh, mengganggu.” gerutuku kesal. Alarm membuyarkan mimpi indahku bersama Fahri. Akupun mematikan alaramku dan kembali tidur lagi. Sepuluh menit kemudian alarm kembali berbunyi. Derai kencangnya membangunkan diriku. Lalu aku mematikan kembali alarmnya, tidur lagi. Plong. Aku bangun kesiangan.
            “Lin, kok aku susah ya bangun jam tiga pagi?” tanyaku kepada Lina, teman dekatku. Mukaku tampak begitu lesu.
            “Kalo kamu ingin bangun jam tiga, kamu harus niat dulu sebelum tidur, ucapkan dalam hati secara berulang-ulang “aku bangun jam tiga”  hingga rasa kantuk menghampirimu.” Jawab Lina.
            “serius?” tanyaku sambil memegang lengan Lina
            “enggak. Ya iyalah. Yang penting kamu niat dulu Sa.” Jawab Lina sedikit meledekku.
            “Hmmm, kamu sudah pernah mencobanya?” tanyaku makin penasaran
            “tinggal coba aja kok Sa, aku sering melakukannya.” Jawab Lina meyakinkanku.
            Awalnya aku masih ragu, apa benar yang Lina katakan? Pikirku sebelum tidur. Setelah pikiranku penuh pertimbangan, akhirnya aku mencoba. “aku pasti bisa!” gumamku dalam hati. Sebelum tidur aku niatkan diri bangun jam 3 sesuai saran dari Lina. Aku pun tidur. Dan Benar ! tepat jam tiga aku bangun. Dengan spontan tanpa alarm dan tanpa ada yang membangunkanku. Setelah bangun, ku langkahkan kaki ke kamar mandi untuk mencuci muka dan wudhu. Selanjutnya sholat tahajud, hajat dan menulis.
            Aku terus menulis, sudah sampai empat lembar. Apa yang aku lakukan sudah di tengah jalan. Mungkin tulisan ini tiga lembar lagi, pikirku menebak-nebak. Disaat-saat yang seperti inilah aku harus melawan diriku sendiri. Beban pikiran mulai bermunculan. Apa aku bisa menyelesaikan ini? Beban pikiran perlahan-lahan mulai keluar. Aku berusaha membuyarkanya, namun beban pikiran itu terus bermunculan. Tak henti-henti hingga mendinginkan semangat diriku yang membara. Aku tak ingin seperti dulu lagi, ketika aku menulis dan sudah sampai paragraf satu, aku berhenti, ngeblank, kehabisan ide. Tak tahu apa yang harus aku tulis lagi. Aku merenung.
            “Ketika kau ingin menulis, ya menulislah!” kara-kata penulis terkenal muncul dalam pikiranku. Namun aku bingung harus menulis apa. Entah disambet setan apa, aku mulai kesal. Merobek, meremas-remas kertas yang berisi tulisan yang sudah sampai 4 lembar menjadi bulatan bola kertas kemudian membuangnya ke tempat sampah. Terus berulang-ulang. Dalam hal yang sama, menulis, ngeblank, marah, dan merobek serta meremas-remas tulisanku.
            “apa ini!” aku memaki-maki diriku sendiri.
            “mungkin aku tak mempunyai bakat menulis. Aku tak bisa apa-apa, aku tak mempunyai bakat apapun!” Aku terus menghakimi diriku sendiri.
            Pagi itu semangatku semakin meredup, bahkan mulai padam seperti api yang disiram air. Aku memutuskan untuk berhenti menulis. Kembali ke kebiasaan burukku. Malas-malasan, makan, tidur, makan, tidur lagi lalu facebookan sehabis pulang kuliah sampai maghrib. Namun, saat ku buka facebook dan sekilas aku membaca status dari salah satu teman kuliahku, aku mulai iri, diriku memanas, terbakarlah keirianku.
            “Horeee.. cerpenku masuk majalah story.” Status itu sepintas seperti mengejekku. Seolah-olah tulisan itu hidup, keluar dari layar hpku dan menjalarkan lidah yang amat panjang kehadapanku. Aku mulai kesal terhadapnya. Hatiku iri dan benar-benar iri. Lalu aku ambil pena dan buku diary yang berisi kumpulan cerpen yang pernah ku tulis. Akupun sekilas membaca cerpen yang pernah ku tulis. Aku tertawa melihat tulisanku sendiri. Betapa lucunya tulisanku. Ternyata tulisanku benar-benar bagus, kataku bangga.
            “ternyata aku mempunyai bakat menulis.” Gumamku
            Langit senja berwarna jingga ronanya membara, menjilatku. Aku mulai tersengat. Memanas dan berkobar-kobar lagi. Kembali aku menuangkan ideku menulis. Aku kembali semangat lagi. Lalu ku buka lembara kertas kosong. Ku ancang-ancang untuk menulis. Awalnya aku bingung. “mau nulis apa ya?” pikirku penuh pertimbangan.
            “kalo ingin bisa menulis, ya menulislah!” kata-kata penulis terkenal itu kembali terlintas di benakku. Aku tak boleh menyerah lagi. Aku pun memutuskan untuk berhenti menenangkan pikiranku. Ku tarik nafas panjang, ku keluarkan pelan-pelan. Aku sigap dari tempat dudukku. Lalu berdiri dan mondar-mandir dalam kamarku. Berkali-kali aku mondar-mandir tak terhitung. Cukup lama galau yang kurasakan. Pikiranku berantakan tak tertata. Kemudian aku kembali duduk. Mataku menatap langit-langit kamar. Yang terlihat hanyalah eternit yang bolong digerumuti rayap. Kemudian mataku tertuju pada tembok kamarku yang berada didepan mataku. Sebuah kertas manila berwarna putih yang usang dan berdebu.
            “Petiklah sebuah mimpi, tampunglah dalam sebuah kepercayaan, bawalah dengan tindakan.” Tulisan itu terangkai di kertas yang menempel di tembok itu. Aku terus menatapnya. Aku tah8u apa maksud tulisan itu. “Ya, benar!” kataku dalam hati. Aku harus mempunyai mimpi. Aku harus mempercayai mimpi ini akan terwujud dan aku harus bertindak untuk mengejar mimpi-mimpiku ini. Di benakku terus berkecambuk berbagai macam pikiran. Bagaimana nantinya jika mimpiku tak tergapai? Apa anggapan ibuku, ayahku dan tetangga-tetanggaku kalau aku tak mempunyai mimpi? Orang pasti akan beranggapan bahwa aku tak ada gunanya dan hanya menyusahkan mereka saja. Bayang-banyang itu terus menghakimiku. Penghakiman itu benarbenar membuat diriku terbakar. Emosiku meletup. Meledak. Doarrrr!!!!
            “Ahhhh tidaaakkk !!!!” kedua tanganku memegang kepalaku. Tanpa berpikir panjang akupun kembali melanjutkan tulisanku. Tulisan tentang diriku yang sedang mengejar mimpi. Aku pasti bisa menyelesaikan tulisanku.
            Rona senja berwarna jingga semakin meredup termakan pintu-pintu gelapnya malam. Namun, gelapnya malam tak memakan semangatku. Api semangat berkobar terus membara. Akhirnya akupun bisa menyelesaikan tulisanku. Pada hari-hari berikutnya aku mulai menyukai dunia tulis menulis. Sampai pada akhirnya aku diundang untuk mengisi sebuah acara motivasi berkarya melalui goresan pena.

NB : Cerpen ini merupakan cerpen pertama yang dimuat di salah satu penerbit bernama Al-Qalam Media Lestari.                                                            

Biodata Narator :
Rokhayati, itulah nama lengkapku. Singkat, simple dan indah. Roh artinya jiwa dan hayati berarti sejati. Jiwa sejati? Ya ! itulah nama yang diberikan orang tuaku sejak kecil. Aku dilahirkan di kota Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini aku sedang menempuh studi di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Aku menyukai dunia tulis menulis sejak duduk dibangku SMP. Berawal dari keasyikanku menulis diary. Alamat Fb ku : Rokha An-Nafsi. E-mail : rokhayati96@yahoo.com , khayyaaa@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar